Sabtu, Juni 21, 2008

Koalisi PDIP-PKS Paling Kuat

Tifatul: Visi Tak Sejalan, Mega Sudah di Atas 50 Tahun
JawaPos-JAKARTA - Meski jarang dipublikasikan, sejumlah partai politik kini mulai menghitung kekuatan koalisi pasca Pemilu 2009. Beberapa studi terakhir menemukan koalisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menjadi kekuatan paling ideal dalam membangun pemerintahan.
Hasil penelitian tersebut dikemukakan Presiden PKS Tifatul Sembiring dalam sebuah diskusi publik PKS dan Kepemimpinan Kaum Muda di Jakarta kemarin (19/6).
Dia memaparkan, PKS menyadari bahwa pada 2009 belum mampu menjadi partai yang mendapat suara mayoritas (single majority). ”Dan, riset terakhir, PDIP dan PKS paling kuat kalau membentuk koalisi,” ujar Tifatul.
Sistem pemilu dengan multipartai sederhana seperti yang berlaku di Indonesia sekarang ini dinilai tidak mungkin menciptakan single majority. Menurut Tifatul, mozaik kebhinekaan kekuatan parpol sangat cair. ”Indonesia tak lagi ‘kuning’,” katanya. Parta-partai papan atas dan tengah saling berbagi kekuatan di seluruh wilayah Indonesia. Karena itu, Tifatul memprediksi, dalam Pemilu 2009 tidak akan ada partai yang meraih suara di atas 25 persen.
Namun, visi PKS tentang calon presiden ideal di 2009 tak segaris dengan PDIP. Tifatul menegaskan, calon presiden ideal harus dari kalangan muda. ”Kita butuh presiden balita, bawah lima puluh tahun,” cetusnya. Pernyataan tersebut berbeda dengan keputusan PDIP yang akan kembali mengusung Megawati Soekarnoputri untuk bertarung pada Pemilu 2009.
Tifatul mengatakan, permasalahan yang dihadapi Indonesia sangat kompleks. Karena itu, seorang calon presiden harus mempunyai pemikiran segar dan matang untuk menemukan solusi atas kesulitan bangsa. ”Dia harus tahu what dan how-nya. Yang pasti, permasalahan ini tidak bisa diatasi dengan iklan di tv, main film, dan nyanyi-nyanyi,” sindir Tifatul.
Menanggapi pendapat Tifatul, Ketua Umum Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) PDIP Budiman Sudjatmiko melihat peluang koalisi masih sangat terbuka. Menurut dia, sebuah koalisi yang kuat bisa terbangun atas dasar kesamaan visi. Karena itu, sebelum membentuk sebuah koalisi, partai politik harus berani membedah visi misi masing-masing. ”Apakah program partai sesuai dengan ideologi partai,” tambahnya.
Pengamat politik dari Universitas Paramadhina Yudhi Latief juga sepakat bahwa koalisi PDIP-PKS sangat ideal untuk membentuk pemerintahan. ”Kalau dua partai ini bersekutu, saya rasa, bisa menyelesaikan semuanya,” tandasnya. Meski ideologi kedua partai tersebut bertolak belakang, lanjut Yudhi, jika ditemukan formulasinya, justru bisa saling melengkapi.
Yudhi berpendapat, sebagai bagian dari mozaik sebuah bangsa partai politik boleh membawa bendera perjuangan ideologinya. Tapi, ketika sudah masuk pada tataran kepentingan bangsa, partai politik harus rela melepaskan ego kelompoknya. ”PKS boleh membawa suara Islam. Tapi, ketika nanti menjadi penguasa, dia harus berbicara permasalahan nasional,” katanya. (cak/mk)
sumber : pks pusat n jatim
dicopy oleh simpatisan PKS Ponorogo
baca selanjutnya..

Selasa, Juni 17, 2008

Nomer 5 Untuk Karsa

sumber : PKS Jatim
dicopy oleh : Simpatisan PKS Ponorogo
baca selanjutnya..

Sabtu, Juni 07, 2008

Kasus FPI Jangan Alihkan Isu BBM

Fraksi-PKS Online: Kerusuhan yang terjadi akibat pertikaian dua kubu massa di Monas Ahad lalu yang berbuntut pada tuntutan pembubaran FPI tak pelak menyedot perhatian banyak pihak. Tak kurang dari Duta Besar AS dan Presiden SBY turut bereaksi terhadap kasus tersebut. Pers pun berebut untuk terus menyuguhkan kasus itu sebagai headline di media mereka hingga hari ini.
Anggota Fraksi PKS DPR RI Hilman Rasyad Syihab mengkhawatirkan tingginya perhatian terhadap kasus Front Pembela Islam (FPI) VS Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) akan menggeser isu kenaikan BBM. Menurutnya pendapat yang menyatakan bahwa isu itu sengaja dibesarkan untuk mengalihkan gejolak massa terhadap kenaikan BBM cukup masuk akal.
"Isu BBM sepertinya tertutupi kasus Monas, padahal masih banyak yang perlu dikritisi dari kebijakan pemerintah menaikan BBM," kata Hilman di Jakarta, Selasa (3/6) malam.
Menurut Hilman dampak naiknya BBM yang sangat membebankan rakyat miskin masih harus mendapatkan porsi terbesar dari perhatian pemerintah. Penyelenggaraan Bantuan Tunai Langsung (BLT) misalnya, masih banyak masalah di sana-sini. Belum lagi harga-harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik.
"Jangan sampai isu kelompok massa tertentu melupakan perhatian pemerintah terhadap masyarakat miskin yang jumlahnya jauh lebih besar," tegasnya.
Wakil Ketua Komisi VIII ini juga mengkhawatirkan ada pihak-pihak yang menangguk keuntungan dari dibesar-besarkannya kasus tersebut. Apalagi situasi sosial dan politik dalam negeri semakin menghangat pasca kenaikan harga BBM dan menjelang Pemilu 2009. Untuk itu dia meminta Pemerintah segera menyelesaikan kasus itu dengan seadil-adilnya.
Sumber : Fraksi-PKS Online
Pengirim: Khairunnisa Update: 03/06/2008 Oleh: Khairunnisa
Dicopi oleh Simpatisan PKS Ponorogo
baca selanjutnya..

Kamis, Juni 05, 2008

Kamis, Mei 22, 2008

PKS Ikrar Dukung KarSa di Juanda



Anggota dewan dan tokoh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) membuktikan keseriusannya mendukung pasangan KarSa (SOEKARWO – SAIFULLAH YUSUF) melalui ikrar kesetiaan di Hotel Bandara, Juanda, Sabtu (17/05).“Kami anggota dewan dan elemen tokoh Partai Kedilan Sejahtera Propinsi Jatim, siap dengan sepenuh hati, dengan sepenuh jiwa, dengan sepenuh raga, untuk memenangkan Pemilu legislatif 2009, dan memenangkan SOEKARWO – SAIFULLAH YUSUF sebagai Gubernur dan Wagub Jatim 2008-2013.” Begitu bunyi ikrarnya, yang diakhiri dengan pekik Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar walillahilham.
Usai ikrar, Ir YUSUF ROHANA, Ketua Tim Pemenangan Pemilu Wilayah (TPPW) PKS Jatim yang juga Sekretaris Majelis Pertimbangan Wilayah PKS Jatim, menjelaskan, pihaknya akan all out memenangkan KarSa dengan tiga pola yakni dengan eleman kader, elemen anggota legislatif dan tokoh, serta dengan elemen sayap politik.
Untuk kader menggunakan formula 10 – 4. Kemudian enam elemen sayap dan elemen anggota legislatif. “Maksudnya, kami punya kader 63.000-an, masing-masing berkewajiban mendatangi sepuluh keluarga. Kalau satu keluarga rata-rata terdiri dari empat orang, kalkulasi kami nanti bisa sumbangkan sekitar 2,4 juta dari elemen kader,” kata YUSUF seperti dalam siaran pers dari Markom Sekber KarSa pada suarasurabaya.net.
Kemudian kami punya enam elemen sayap, yang siap digerakkan, yakni dari Pemuda Lingkungan, salah satunya Pesantren Anak Jalanan (Palas), Gema Keadilan, yang mewadahi para seniman, pecinta alam, dan pemuda lingkungan lainnya Ada sayap professional, sayap pelajar mahasiswa, sayap buruh, ada sayap petani dan nelayan (PPNSI = Persaudaraan Petani Nelayan Sejahtera Indonesia).
Menurut YUSUF, kini sedang menggerakkan anggota legislatif dan tokoh PKS. Insya Allah mesin politik sudah siap sejak tiga bulan lalu, meski saat itu belum menentukan dukungan terhadap cagub-cawagub. “Kini tinggal ‘grak’-nya,” ujarnya.
Ditambahkan, dukungan ke KarSa dikeluarkan pimpinan PKS Pusat pada hari Rabu (07/05). Setelah itu kita bisa gerak, karena mesin sudah disiapkan sebelumnya. Total jumlah anggota legislatif PKS di Jatim ada 39 orang. “Anggota DPR RI dari PKS, turun pada kampanye saja,” ujarnya.(ipg)
Teks Foto:- YUSUF ROHANA membacakan ikrar dukungan terhadap pasangan KarSa, diikuti 100 anggota legislatif dan tokoh sayap politik PKS se-Jatim, di Hotel Bandara, Juanda, Sabtu (17/05).Foto: Dok. Sekber KarSa.Sumber: Radio Online Suara Surabaya
baca selanjutnya..

Rabu, Mei 21, 2008

PKS Unggul di 2009 Menurut Kompas

PKS Partai Keadilan Sejahtera Menuju Pemilu 2009
Konstelasi Partai Menjelang 2009
Pemilihan Umum 2009 akan menjadi ajang pembuktian kekuatan bagi partai kader untuk menunjukkan kepiawaian organisasinya, sekaligus mengukur seberapa kuat partai-partai lama masih bisa bertahan menghadapi gempuran partai-partai baru.Berbeda dengan pertumbuhan kader kepemimpinan yang stagnan, pertumbuhan partai politik tampaknya tetap dinamis. Meskipun kinerja partai-partai secara umum dinilai mengecewakan, setidaknya tergambar dari pernyataan 84,7 persen responden jajak pendapat Litbang Kompas, namun persiapan partai-partai menuju Pemilu 2009 tampaknya tidak terpengaruh oleh pendapat publik.Tujuh partai yang telah lolos ambang batas Pemilu 2004 setidaknya harus berhadapan dengan 24 partai baru yang lolos verifikasi Departemen Hukum dan HAM dan sembilan partai politik yang tidak lolos ambang batas perolehan suara, tetapi diperbolehkan ikut pemilu karena memiliki kursi di DPR.Jika dilihat dari konteks pertumbuhan dukungan partai, pilihan publik setidaknya dipengaruhi oleh seberapa besar sebuah partai mengalami eskalasi citra dan solidaritas satu-dua tahun menjelang pemilu.Jika dinamika sebuah partai menjadi mekanisme yang terus bergerak, ada kemungkinan pertumbuhannya seperti bola salju yang makin membesar. Sebaliknya, jika tren yang terlihat cenderung stagnan atau aktivitasnya tidak dinamis, sulit akan meraih dukungan dari massa mengambang yang jumlahnya sangat menentukan.Dengan kisaran 40 hingga 50 persen dari jumlah potensial pemilih, massa mengambang akan menjadi penentu kemenangan pada saat-saat akhir. Pilihan sangat mungkin dijatuhkan kepada partai-partai yang dinamis.Belajar dari pemilu-pemilu sebelumnya tampak bahwa pemilu membawa dinamika yang berbeda-beda pada setiap partai. Dalam Pemilu 1999, eskalasi yang demikian dahsyat terjadi pada Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).Sejak peristiwa 27 Juli 1996 PDI-P terus tumbuh dengan solidaritas dukungan basis massa yang makin kuat. Partai ini menampilkan tiga sisi partai yang sangat menonjol: soliditas basis massa, ideologi, dan kepemimpinan yang kuat. Hasilnya adalah, ia menjadi pemenang Pemilu 1999.Namun, dinamika PDI-P tampaknya menjadi stagnan setelah partai ini mencapai tampuk kepemimpinan nasional. Sejumlah friksi membuat partai nasionalis ini mulai ditinggalkan elite-elite partainya. Dukungan terhadap partai tersebut terbukti menurun pada pemilu selanjutnya.Sebaliknya, dua tahun menjelang Pemilu 2004, Partai Golkar lebih memperlihatkan diri sebagai partai yang dinamis. Lewat konvensi-konvensi yang dilakukan partai ini, Golkar mencitrakan sebuah partai dengan ideologi nasionalis yang demokratis. Dinamika Golkar mengubur kenangan publik pada represi politik yang dilakukan partai ini bersama ABRI dan birokrasi pada masa Orde Baru. Golkar Baru yang diembuskan lewat konvensi membuat partai beringin ini bisa menahan penurunan suara, bahkan menjadi pemenang Pemilu 2004.Saat ini dinamika yang masif tampaknya terjadi pada Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Setelah tak mampu meraih ambang batas pemilu pada tahun 1999, PKS menunjukkan performa yang mengejutkan pada pemilu selanjutnya. Terutama di wilayah perkotaan, partai Islam ini mencitrakan diri hadir dengan kekuatan yang meningkat cepat. Di DKI Jakarta, misalnya, pada pemilu sebelumnya (1999) perolehan suara partai ini hanya berada di posisi lima. Namun, kemudian melejit menjadi posisi pertama di pemilu selanjutnya (2004).Bahkan, dalam Pilkada Gubernur DKI Jakarta yang berlangsung tahun lalu, calon dari PKS mampu meraih dukungan 42 persen, jauh lebih besar daripada basis massanya. Sejumlah kemenangan lain, termasuk Jawa Barat dan Sumatera Utara, membuat partai ini mempertunjukkan citra sebagai partai dinamis.Tiga pilar kekuatanJika konstelasi kekuatan partai politik bisa dilihat dari tiga pilar—soliditas basis massa, kekuatan ideologi, dan kepemimpinan—baik Partai Golkar maupun PDI-P tak lagi dipandang sebagai partai yang memiliki soliditas basis massa paling menonjol. Sebaliknya, PKS menempati polisi puncak di dua pilar kekuatan partai tersebut (lihat grafik).Dilihat dari soliditas partai, ada kecenderungan Golkar dan PDI-P akan mengalami stagnasi atau penurunan. Sementara itu, partai-partai lain juga tidak menunjukkan gejala peningkatan. Bahkan, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengalami penurunan paling drastis dibandingkan dengan semua partai lain. Perpecahan di jajaran elite pimpinan partai membuat perubahan yang sangat signifikan pada kesetiaan pemilih. Dukungan yang pada Januari diberikan oleh 42,9 persen basis massa PKB turun drastis menjadi hanya separuhnya setelah Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dipecat dari jabatannya.Satu-satunya partai yang terus mengalami peningkatan soliditas basis massa tampaknya hanya PKS. Pada Oktober 2007 dukungan pemilih partai ini untuk kembali memilihnya 58,3 persen, lalu meningkat menjadi 68,8 persen pada Januari 2008, dan meningkat lagi menjadi 69,3 persen pada April 2008.Sementara itu, dari sisi pilar ketiga, yaitu kepemimpinan, Golkar lebih menonjol dibandingkan dengan partai-partai lain. PKS di posisi ketiga setelah PDI-P.Implikasi dari ketimpangan yang terjadi antara soliditas basis massa, ideologi, dan kepemimpinan adalah komplikasi yang potensial timbul dalam perebutan pimpinan nasional nantinya. Seperti halnya dalam dua pemilu sebelumnya. Partai pemenang pada akhirnya tidak memperoleh kursi presiden karena kurang kuatnya figur kepemimpinan, meskipun memiliki kekuatan di basis massa dan ideologi. PDI-P menang Pemilu 1999, tetapi yang menjadi presiden adalah tokoh dari PKB. Golkar menang di Pemilu 2004, tetapi yang menjadi presiden adalah tokoh dari Partai Demokrat.Namun, di kedua pemilu sebelumnya juga terjadi fenomena eskalasi pencitraan figur tokoh yang memungkinkan pengambilalihan dukungan basis massa menjelang pemilu presiden. Figur Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang sangat aktif menjalin komunikasi dengan semua kalangan (termasuk dengan Presiden Soeharto waktu itu), menjadikannya sebagai sosok yang lekat dengan kebutuhan bangsa yang baru mengalami situasi politik yang berantakan.Adapun di Pemilu 2004 dinamika kepribadian tokoh lebih terlihat pada Susilo Bambang Yudhoyono. Sejak ia masuk dalam kabinet hingga mundur, popularitasnya mampu mengalahkan semua tokoh politik lain.Menjelang Pemilu 2009, pertumbuhan popularitas elite politik tampak stagnan. Dengan demikian, dua kemungkinan bisa saja terjadi: kepemimpinan tetap di tangan incumbent atau diambil alih oleh salah satu tokoh dari partai yang dinamis. Tarik-menarik pada akhirnya akan terjadi pada seberapa kuat incumbent bertahan atau seberapa kuat determinasi partai memengaruhi publik untuk memilih tokoh baru yang tidak terkenal.
Sumber : (Litbang Kompas)Http://kompas.co.id/kompascetak.php/read/xml/2008/05/19/00295920/konstelasi.partai.menjelang.2009
baca selanjutnya..